Minggu, 17 Januari 2016

Untuk Seorang Perempuan Kuat; IBU



Ibu,...

Hatinya pernah secantik taman bunga, dipenuhi bunga berwarna merah muda. ia bahkan menaruh isi kepalanya pada akar yang menjalar perut bumi di dalam sana. hingga sebuah pohon tumbuh dengan sempurna, menjadikan apa-apa yang ada di sekelilingnya ikut merendah.

malam tak pernah datang tiba-tiba, ia tahu kelak akan datang waktunya. bunga-bunganya mulai layu serupa senyuman nenek tua. hatinya patah, dan tak lagi seindah taman bunga.

tak sekali ia mengumpulkan hujan di kedua matanya, menaruhnya dalam sebuah wadah di kedua tangannya dan mempersembahkan segala duka kepada Yang Maha Pemilik Rasa menghadap kiblat. ia paham betul, bahwa apa yang ia rasakan, hanyalah sebagian dari caraNya mencintainya. perempuan itu bersumpah atas nyawanya; untuk segala yang ada, sujud syukur tak kan habis ia sembahkan.

suatu hari yang tak lagi ganjil hadir, Tuhan memberinya jawaban atas doa-doanya selama ini. pria yang ia cintai, sudah seharusnya dibiarkan pergi, bersama malaikat di surga. ia kembali mematahkan langkah kaki. bukan hanya belati yang menorehnya kini, tapi serupa ada peledak yang telah lama mendiami diri; ia buncah, untuk kesekian kali.

ia menenggelamkan diri pada samudra yang sunyi; agar ia tak lagi mendengar bantahan mengapa malam kerap terjadi, atau agar ia tak lagi mengingat warna pelangi. Laki-laki itu terkubur dalam liang di jauh hari. bukan hanya sekali ia coba membasahi perih dengan keikhlasan air mata yang mengalir.

perlahan ia mulai bangkit dari gulita, mencoba lebih banyak memfungsikan telinga daripada lidah, dan mengulurkan tangannya untuk membantu siapa saja. baginya, bahagia bisa didapatkan dengan berbagai cara; meski dengan membahagiakan siapa saja yang membutuhkan.

senyumnya perlahan merekah, mengira rasa sakit telah sirna sempurna. tak ada waktu yang tak ia habiskan untuk mengulurkan tangan lebih banyak, ia merasa cukup bahagia, dengan apa yang ada. perempuan itu berdiri di atas cermin yang begitu malam; mencoba menerbangkan segala rasa yang buncah kepada Yang Maha Pemilik Segala. ia adalah milikNya, dan kepadaNyalah segala sesuatu yang dimiliki seharusnya pulang.

Ibu,...

Terima kasih untuk berbagi manis dari asin yang kaukecap, menjadikan hidangan nikmat tanpa perlu orang lain tahu bagaimana arang mencoreng wajahmu tanpa sebab. Terima kasih, untuk berdiri tegap. Meski kutahu, ada patahan duri di sela-sela jemari tak beralas. Tanpa kausadar, melihatmu kuat adalah kekuatan bagi yang lainnya untuk tak pernah berhenti percaya – bahwa bintang terlihat paling terang ketika kegelapan datang.

Tetaplah menjadi bintang paling terang untukku dan Desti (adikku). Bintang yang tak kan hilang meski pagi kerap menjadi binatang jalang –binatang yang melumat mimpi orang-orang. Percayalah, tidak ada yang lebih kuat dari doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Dengan doamu pula, aku yakin dan mengerti segala sesuatunya dimulai dari hati yang bersih,..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar