Sabtu, 16 Januari 2016

POHON TUA


kita tak ubahnya serupa pohon tua, yang tetap berdiri tak peduli sehebat apa kala usia masih dalam hitungan, waktu selalu dapat melumpuhkan apa-apa yang pernah dibanggakan.
kita ialah pohon tua dengan akar, dahan, ranting yang tak lagi muda, namun berharap bisa membantu mereka yang menahan rasa lapar demi mencapai tujuan.
kita ialah pohon tua yang tetap berdiri kokoh walaupun terpaan badai kan datang.
kita kan terus menaruh kepala di atas, melupa bahwa warna hanya mengubah daun dan pohon menjadi gersang, bukan mengubah akar yang perlahan merenta sebab putaran waktu dan luka yang kerap dibiarkan ada. pada pinggir jalan di mana lampu-lampu telah dimatikan, akhirnya langkah kita terhenti sebab kesedihan-kesedihan yang tak juga menua. kita menjadi penyebab utama amarah mereka –manusia dengan masing-masing keinginan, yang tak peduli kecemasan kerap mengubah diri menjadi hujan tak berkesudahan di dada kita–, sebab air mata kita hanya menjadi penunda atas keinginan di ujung telunjuk mereka. terkadang mereka lupa, kita ialah perjalanan yang tak mampu mereka gantikan dengan selembar uang, dan dicerca dengan mudah ketika tujuan mereka diubah paksa; sebab kita pernah dinantikan tiba, ketika hati mereka terlunta.
kemudian berbagai upaya dilakukan untuk melunakan duka; dengan atau tanpa bantuan, toh pada akhirnya, kita hanya menjadi kenangan yang ingin dihapus segera.
kita hanyalah pohon tua...yang pernah begitu dinantikan untuk tumbuh, dan kemudian dilupakan, ditebang begitu saja..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar