Ya
Allah,
Sebelum
langkah
takdirMu mengucurkan ujung yang utuh, biarkan keresahan memakamkan dirinya di
kedua tanganku yang menengadah kepadaMu.
Wahai,
Engkau Maha Pemberi...
Engkau
yang menyelamatiku dari hari-hari yang kelak mati, meski seringnya keluhku
yang Kau dapati. Engkau yang kerap menyeka hujan tak bertepi di pipi, meski
perihnya kudapati dari belati di tanganku sendiri. Engkau yang merengkuh segala
nyeri, meski hatiku mengharap ciptaanMu yang lain.
Ampuni
aku yang tak tahu diri. Ketika panggilanMu, kerap kuanggap hanya serupa lilin;
yang menerangi untuk kemudian mati. Bukankah hanya Engkau yang begitu tulus
mencintai, ketika yang lainnya hanya lahir untuk kemudian beranjak pergi dalam
ribuan langkah kaki? Ampuni aku yang melewati banyak musim dengan meleburkan
banyak pelangi, hanya untuk mencari arti.
Wahai,
Engkau Maha Pengasih...
Aku
adalah perempuan kerap kau selimuti kasih. Malam tak pernah sepekat kopi, ia
selalu hadir dengan prasasti-prasasti yang kerap membuatku tergelincir, pada warna
yang begitu pagi. itu
ialah salah satu caraMu mencintai, membiarkan ciptaanMu mati agar mengerti arti
kehadiran lahir.
Ya
Allah, bisakah kupinta satu hal kali ini?
Jika
hari ini gerimis kembali membasahi nyeri di perempuan yang Kau cintai ini,
jangan hukum ia di lain kali. Aku belajar mencintai dariMu Wahai Maha Pengasih;
ketika mata bukanlah juru kunci perihal mencintai, ketika doa ialah
sebaik-baiknya untuk mencintai. Dan ketika memaafkan jauh lebih baik daripada
membiarkan iblis merayakan kemenangannya melihat isi hati manusia dipenuhi rasa
benci.
Biarkan
hambaMu ini, belajar mengikhlaskan apa-apa yang tak pernah ia miliki. Sebab, ia
pun sudah begitu mengerti; bahwa segalanya pun akan kembali, dan sebaik-baiknya
pulang ialah kepada illahi.
Ya Allah, Wahai Maha Segala Arti...
Mencintai
tak pernah seindah ini. Sebab,
semakin resah itu mencekikku erat, semakin hebat dekapanku merengkuh surgaMu
kelak. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikanku perempuan yang begitu mahir
menjahit lukanya dengan banyak sabar. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikan
keikhlasanku sebagai mahkota. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikanku hamba
yang begitu Kau cinta.
Ya
Allah,
Biarkan
cintaku hanya berotasi padaMu, dan biarkan hamba mencintaiMu sepanjang usia
jiwaku. Sujud syukurku tak kan habis tertuju padaMu, dan kepadaMu lah
sebaik-baiknya cintaku tertuju.
Terima
kasih ya Allah, untuk segala yang luput dari mata dan telinga. Terima kasih
yaa Allah, untuk menempatkanku pada kebenaran agamaMu. Terima kasih yaa Allah,
untuk cintaMu yang tak terukur dengan segala.
Alhamdulillah...
Tertanda,
Seorang
Perempuan yang mengharapkan surgaMu kelak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar