terkadang
aku
merasa begitu lelah untuk merasa lelah, bukan karena hariku yang tak berwarna, ataupun sepanjang
hari yang membuat hatiku berkeringat.
hingga ingin sekali ku terlelap
begitu saja, tanpa perlu mengeja ingatan.
aku
ingin sekali melukis malam, dengan nyanyian para malaikat; menyerukan nama-Nya dan berharap lelahku mereda. namun tak jarang,
langkahku
begitu erat menggenggam dunia, hingga melupa ini hanyalah jalan menuju apa yang
kelak kekal. aku tahu, bukan mereka yang
kerap membuatku
tak bernyawa; tapi diriku sendiri yang memaksakan
pelangi tiba dengan banyak pagi di kepala, meski aku tahu, bukan aku yang dijadikan pulang sejak
awal.
aku
ingin sekali membiarkan lidah berfungsi sempurna, atau bahkan membiarkan musim
membawa luka hingga ujung dunia; agar pelukan lebih mudah direntangkan siapa
saja, atau setidaknya, aku
diberikan telinga untuk sekali saja. namun aku begitu merasa lelah, sebab tak
sedikit yang hanya memberikan banyak muka dan bukan karena peduli padaku yang hampir
sekarat.
untuk
detik yang banyak berkorban atas nama pelajaran; aku membiasakan luka dan
membahasakan diam. tak sedikit yang menggoreskan belati hingga isi kepalaku keluar, atau bahkan aku membungkam kecewa dengan
banyak pemakluman; bahwa kesalahan, yang menjadikan siapa saja manusia. Aku ingin sekali menenggelamkan
malam dan menyerukan segala kesakitan, agar mereka tak lagi membuat hatuku patah untuk kesekian
kalinya; namun aku
merasa begitu lelah, bahkan hanya untuk berkata tidak.
aku
memilih diam, dan membiarkan segalanya
berlalu; sebab lelah sudah hilang makna, entah
sejak kapan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar