Senin, 18 Januari 2016

Aku, Sang Waktu dan Tujuanku


Peluhnya lelah, kaki pun mulai melemah. Kembali aku pun berserah. Mungkin baiknya aku berhenti dulu sejenak. Lepaskan penat yang menggoda seluruh pendapat. Kemudian beranjak kemana seharusnya berpijak. Angin menghampiriku, tawarkan kesejukan sementara. Lalu aku memandang kembali harapan belantara. Begitu liar, semua yang terhampar. Aku tertegun saat menemukan sang waktu di hadapannya. Semakin melayang seiring jalan.

“Aku lelah, bolehkan aku berhenti sebentar dan nikmati angin yang menggodaku ini?” keluhku seraya meminta kepada sang waktu.

“Aku akan terus bersamamu. Tapi maaf, aku tidak bisa menunggumu. Ketika aku telah pergi, kau tidak akan dapat memintaku kembali” jawab sang waktu.

Aku tersadar, apa yang dikatakan oleh sang waktu benar. Meskipun aku mencoba untuk menghindar, waktu kan terus memudar.

“Tapi bagaimana aku bisa terus berjalan, jika kakiku mulai melemah?” tanyaku lagi.

“Jika kakimu mulai melemah, setidaknya kuatkanlah hatimu. Ia akan membantumu. Percayalah.” sang waktu tersenyum dan terhempas bersama angin.


Seketika, apa yang baru saja sang waktu katakan tentang waktu benar adanya. Sang waktu seketika pergi, aku berusaha mencari dan tak ada lagi. Bergegas aku kuatkan hati seraya berdoa dengan tujuan yang merambat ke hati. Hatiku kuat, meskipun dengan kaki yang melemah. Aku tak perduli lagi. Beranjak dari keterpurukan dengan kelemahan, meskipun berat aku akan tetap mencoba. Kaki yang melemahpun tak jadi masalah, karena aku percaya. Aku punya tujuan akan pengharapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar