Minggu, 17 Januari 2016
Diantara
tak ada yang mampu menjamin, bahwa cinta tak kan menyakiti bagi siapapun yang menerimanya.
—sebaik apapun cinta itu diberikan. tak juga ada yang mampu menjamin, cinta tak kan menyakiti bagi siapapun yang memberikannya —sebaik apapun cinta itu diciptakan.
bukan inginnya tuk berada di antara apa-apa yang begitu kubenci dan apa-apa yang selamanya yang kucintai. bukan pula inginku, menyayat belati di nadi seorang laki-laki; sedangkan aku merasa lebih mati dari dia yang disakiti.
tibalah aku pada sebuah hari-hari yang kerap membuat diriku mencaci diri; di mana setiap malam ku lewati dengan mencemaskan esok hari, menanti pagi dengan berharap kecemasan kan membunuh diriku sendiri. terkadang aku lupa, bahwa cemas tak kan berakhir hingga aku harus mengikhlaskan apa yang sejatinya harus terjadi.
malam tak pernah menua di kepalaku, meski pagi ialah apa yang kerap kusebut dalam doa-doa. di dadaku kerap percaya, doa tak kan pernah sia-sia dan aku hanya perlu menghadiahi diriku dengan lebih banyak lagi sabar; meski kecemasan tak kan lelah melumpuhkan langkah.
bisakah seseorang berikan jawaban, mengapa untuk bersujud kepadaNya, aku harus mencekik leher laki-laki yang menjadi napasku? dan mengapa tawa hanya dijadikan pemanis buatan untuk asin air mata?
Aku tak kan meminta Tuhan memaklumi noda yang kubuat, demi cahaya di wajah seseorang yang kucinta. sebab aku pun percaya, bahwa Tuhan lebih paham dalam rahasia-rahasia yang tak kan pernah mampu ku artikan.
barangkali, benar. jika cinta hanyalah perihal keikhlasan. sudah seharusnya keikhlasan ada untuk sebuah cinta; meski dengan mengorbankan diriku.
satu hal yang kerap aku pertanyakan,
haruskah terluka hanya untuk mencinta?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar