Terkadang aku mendapati diri menuangkan malam pada isi kepala yang tak mengenal diam, perlahan dan begitu dalam menikamku tanpa mengenal jarum jam. Pada detik berikutnya, sepi serupa kopi kental yang enggan ku teguk lagi, ia menetes di sela bibir dan sepanjang malam kulalui. Hingga tetesan-tetesan yang kupikir telah hilang kembali utuh, ia layaknya hantu-hantu yang enggan pergi sebab emosi masih menuhankan diri. Kau tahu, apa yang paling aku takuti? "Isi kepalaku sendiri". Ia mampu menikam siapa saja yang ingin kusakiti, atau barangkali, menjadi belati yang siap membunuh tuannya sendiri.
Pada gelap yang kupikir kekal tak beranjak dari lidah, atau gerimis yang tak mengenal angka-angka; Tuhan menghadiahi aku seorang kakak perempuan di balik cermin yang berbeda. Ia tak berwajah serupa, namun terkadang aku melihat patahan yang sama dalam langkah dan senyumnya, dan syukurku tak ingin beranjak dari sajadah, sebab ia kusebut sahabat. "Nurul Hasanah", terima kasih untuk tepat tiba di tempat.
Kau dan aku, bukanlah perempuan yang pandai menyederhanakan isi kepala, terlebih isi alam semesta yang penuh rahasia di dada. Bukan sekali, aku gagal menerjemahkan luka yang ada; dan kau akan membantuku menyusun patahan langkah, hingga kutemukan apa yang sengaja ingin kulupakan. Begitupun sebaliknya. Percayalah, kita hanya kerap melupa kalau kita bukanlah orang yang pelupa. Bukankah itu hanyalah pilihan kita, agar duka tak perlu menjadi raja yang kita sembah?
Kita serupa lidah yang sengaja Tuhan ciptakan untuk masing-masing kepala, membahasakan rahasia-rahasia dengan kalimat yang tepat; meski, tanpa perlu banyak bercakap. Sepasang mata kita ialah cara kita berbicara lebih banyak, dengan hati yang gemar bersolek di masing-masing kaca.
Entahlah, kita berada di satu garis bintang yang sama, namun jarang kulihat gelap menggerogoti isi cakrawalamu yang menawan. Kau memiliki segala, yang ingin kupunya; dan bukan hanya sekali saja, aku menginginkan warna yang sama. Barangkali, aku tak semahir dirimu dalam melukiskan awan, hingga hujan gemar sekali memeluk bumiku erat. Katakan padaku sekali saja, bahwa kelak sebuah musim akan tiba, dengan bahagia yang enggan menua – saat itu, kuasku tak perlu lagi patah, sebab tawa menjadi satu-satunya alasan mengapa langitku berwajah cerah.. Kuharap musim itu akan tiba bukan hanya untukku saja, tapi tepat diciptakan untukmu juga.
Nurul, terima kasih untuk tiba dan tak beranjak dari awal kaca berada di antara kita. Terima kasih untuk lahir dan berjuang menyelamati diri hingga hari ini datang. Jika bukan karena adanya kau, sudah bisa kupastikan hanya aku seorang yang merasa paling waras di antara yang lainya. Terima kasih untuk menjadi perempuan yang selalu berkata, “Kau adalah adikku, aku datang kerumah ya, kalau kamu sudah siap cerita.” Dan bukan memaksa lidahku berkata apa-apa sedang isi kepalaku entah berada di mana.
Sudah lepas aku menikah, dan kuharap doa-doa tak pernah mengenal kata terlambat untuk tiba. Tentu saja, usia bukan hanya perihal angka dan bertambahnya kerut di wajah; tapi usia ialah sebuah perjalanan yang kiranya tak kan pernah mudah kaulewati tanpa usaha dan doa. Untuk sebuah berkah yang kekal, dan keinginan-keinginan yang kerap tak masuk akal; percayalah, kau adalah pemenang atas tanggal yang janggal dan pahit yang berhasil kau penggal.
Kau dicintai, tentu saja.
Dan tak ada kertas yang mampu kau tuliskan dengan sebuah pena, atas berkah yang tak kan henti-hentinya tiba. Untuk jutaan detik yang mati, dan ratusan juta detik setelah ini; tetaplah menjadi perempuan yang tak kan lelah mencari arti dari bahasa bumi, meski kakimu digerus oleh takdir. Tetaplah menjadi perempuan yang tak hanya memiliki hati, tapi juga kaki yang paling jati dan isi kepala yang tak pernah lupa berotasi.
Nurul, tetaplah merasa waras, ketika manusia lainnya mengganggap kita gila. Kau tahu, kita memliki apa-apa yang sudah seharusnya dirahasiakan; dan tetaplah menjadi perempuan di luar logika, sebab Tuhan selalu melukiskan tujuan indah atas alasan-Nya menciptakan kita. Tetaplah merindukan aku, sebab kalau kita bertemu, yang ada kita hanya saling mengejek terus.
EH BEGIMANAH? Hahahaaa..
Ketika kau lupa caranya menggunakan lidah, sedang hatimu diguyur oleh ketiadaan; kabari aku ya, aku takut lupa kalau kau ada. Hahahaaa..
Kalau rasa sayang kita pudar hanya karena sifat pelupa-yang-sengaja-kita-ciptakan, saya rasa kita tak mungkin berhasil ada hingga sekarang.. :-p
Tertanda
Perempuan yang kerap lupa menyayangimu,
Diah