Senin, 18 Januari 2016

Aku, Sang Waktu dan Tujuanku


Peluhnya lelah, kaki pun mulai melemah. Kembali aku pun berserah. Mungkin baiknya aku berhenti dulu sejenak. Lepaskan penat yang menggoda seluruh pendapat. Kemudian beranjak kemana seharusnya berpijak. Angin menghampiriku, tawarkan kesejukan sementara. Lalu aku memandang kembali harapan belantara. Begitu liar, semua yang terhampar. Aku tertegun saat menemukan sang waktu di hadapannya. Semakin melayang seiring jalan.

“Aku lelah, bolehkan aku berhenti sebentar dan nikmati angin yang menggodaku ini?” keluhku seraya meminta kepada sang waktu.

“Aku akan terus bersamamu. Tapi maaf, aku tidak bisa menunggumu. Ketika aku telah pergi, kau tidak akan dapat memintaku kembali” jawab sang waktu.

Aku tersadar, apa yang dikatakan oleh sang waktu benar. Meskipun aku mencoba untuk menghindar, waktu kan terus memudar.

“Tapi bagaimana aku bisa terus berjalan, jika kakiku mulai melemah?” tanyaku lagi.

“Jika kakimu mulai melemah, setidaknya kuatkanlah hatimu. Ia akan membantumu. Percayalah.” sang waktu tersenyum dan terhempas bersama angin.


Seketika, apa yang baru saja sang waktu katakan tentang waktu benar adanya. Sang waktu seketika pergi, aku berusaha mencari dan tak ada lagi. Bergegas aku kuatkan hati seraya berdoa dengan tujuan yang merambat ke hati. Hatiku kuat, meskipun dengan kaki yang melemah. Aku tak perduli lagi. Beranjak dari keterpurukan dengan kelemahan, meskipun berat aku akan tetap mencoba. Kaki yang melemahpun tak jadi masalah, karena aku percaya. Aku punya tujuan akan pengharapan.

Ada yang Hilang Hari Ini ; 3 Oktober 2009


ada yang hilang hari ini
entahlah, aku pun tak tahu pasti
sesak peluhku seperti terhempas,
memaksa keluar dari dalam rongga dada
entahlah, di mana muara rasa itu berada
ada yang hilang hari ini
entahlah, aku pun tak tahu pasti
air mata seketika merusak hiasan mata yang sengaja kutata cantik hari ini
entahlah, aku tak lagi merasa cantik kini
ada yang hilang hari ini
entahlah, aku pun tak tahu pasti
harusnya aku bahagia,
karena aku berada di sisimu dengan bunga-bunga terindah
entahlah, mengapa hatiku malah semakin gundah
ada yang hilang hari ini
entahlah, aku pun tak tahu pasti
mungkin karena harusnya kau datang,
bukan aku yang hadir
mungkin karena harusnya hari ini adalah pertemuan rindu mendesir,
bukannya pertemuan terakhir dari sebuah suratan takdir
mungkin karena harusnya aku melihatmu di sini,
bukan hanya melihat namamu dalam batu nisan terukir
mungkin karena harusnya bunga itu berada di genggaman,
bukan malah kutabur dalam pemakaman.
entahlah, mungkin karena itu
Entahlah, mungkin karena kamu

Entahlah...

Diam Dalam Waktu


aku terdiam dalam kata
saksikan hidup terus berjalan
ketika mereka bicarakan tentang keegoisan
ada hati yang terluka

egoku menggeliat, emosiku mencuat
inginnya ku tutup saja telingaku
bungkam rasa sakit hati pada sudut bibirku
rentangkan hati, agar ku merasa kuat

bibirku tak mungkin banyak bersuara
ketika nalarku bertengkar hebat dengan naluriku
biarkan kebenaran yang kan berbicara
mencari arahnya sendiri dalam menemukan waktu

Puisi di Atas Batu Nisan; Teruntuk Seorang Lelaki yang Bertanggung Jawab


Untuk; Ayah

selasar hati rebahkan diri
mencari arti keberadaan mati suri
detak mencari, menari dan berlari
satu pati di suatu hari

aku hadir meski semua telah berakhir
bersamaan doa yang terlampi, hati tak memungkiri rasa terukir
air mata tak ayal aliran rindu mengalir
berhulu lahir, bermuara takdir

lantunan doa, selimuti sore di pemakaman
peluh rindu kembali ke pangkuan, dalam pelukan
taburan puisi di atas batu nisan, terlafalkan
sesak sendu memorak-porandakan ingatan dalam kenangan

berbahagialah Ayah,
kematian bukan suatu akhiran melainkan suatu awalan
yang menuntun ruhmu menuju nyatanya keabadian
jika merindu, temui aku di persimpangan angan

doa kan terucap tuk usir kesepian

selamat jalan, Ayah...

Minggu, 17 Januari 2016

ENTAH


Entah mana yang benar mana yang salah
Baik aksara pun ucapan
Baik bukti pun janji
Semua begitu ragu...

Entah mana yang baik mana yang buruk
Keinginan pun keharusan
Logika pun perasaan
Begitu semu...

Entah mana yang hitam mana yang putih
Aku?
Kamu?
Mereka?
Atau kita?
Begitu abu-abu...

Selamanya


Selamanya, aku ingin seperti ini
Dadaku tempat kepalamu pulang
Dengan isi kepalamu tentang dunia jalang
Berhamburan, buncah segala perkara hilang

Selamanya, aku ingin seperti ini
Rambutmu serupa senar gitar, tempat bermain jemariku
Membelai tiap helai dari malam hingga pagi menjamu
Hingga pekat menjadi abu-abu atau hilang satu persatu

Selamanya, aku ingin seperti ini
Pelipismu rumah untuk bibirku mengecup dalam
Sedalam-dalam doa yang kubisikkan sepanjang malam
Hingga keriput berlipat-lipat di sana bersemayam

Selamanya, aku ingin seperti ini
Lenganku penjelajah liar punggungmu
Segala beban kau kurung di dalam situ
Kukikis selamanya dalam pelukku

Selamanya, aku ingin seperti ini
Melihatmu terlelap dengan kepalamu di dada
Selamanya, hingga salah satu dari kita tiada
Menutup mata, selama-lamanya

Surat Untuk Tuhan


Ya Allah,
Hamba tahu, mudah saja menyampaikan segala harap kepadamu, melalui sebuah doa. Tapi dalam kesempatan ini, biarkan hamba melakukan segala cara untuk menyampaikan rasa yang tersirat, meski dalam sebuah surat.

Terima kasih untuk waktu yang kau berkahi atas usiaku, yang kerap membawaku semakin dekat kepada surgaMu. Untuk setiap keadaan yang kerap hamba sebut musibah, meski nyatanya ialah sebuah berkah. Untuk segala syukurku, terimalah dalam setiap keikhlasan sujudku.


Hamba tak ingin membuatMu cemburu, sebab namanya ialah yang kerap hamba sebut, selain namaMu. Kau yang paling tahu perihal rahasia, dosa, dan doa seorang manusia. Kau yang paling mengerti segala, meski lidah tak berfungsi sempurna. Kau yang paling berkuasa, untuk segala rasa yang ada di semesta. Dan ampunilah hamba, jika kerap melahirkan makna yang begitu prematur untuk beberapa pertanda. Sebuah pertanda, yang barangkali ialah jawaban dari banyak doa.

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu dengan ilmuMu dan aku memohon ketentuan daripadaMu dengan kekuasaanMu dan aku memohon daripadaMu akan limpah kurniaanMu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala perkara yang ghaib. Ya Allah, seandainya Engkau mengetahui bahwasanya urusan ini adalah baik bagiku pada agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku, takdirkanlah ia bagiku dan permudahkanlah serta berkatlah bagiku padanya dan seandainya Engkau mengetahui bahawa urusan ini mendatangkan keburukan bagiku pada agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku, jauhkanlah aku daripadanya dan takdirkanlah yang terbaik bagiku kemudian ridhai’lah aku dengannya,”

Aamiin yaa Rabbal’alamin.

Engkau yang paling memahami, mengapa pria ini begitu kucintai. Ketika hadirnya ialah lentera yang menerangi jalanku menuju surgaMu, ketika cintaku kepadanya menguatkan cintaku kepadaMu, ketika mencintainya, ialah salah satu caraku mencintaiMu. Dan kepadaMulah, sebaik-baiknya kuikhlaskan segalanya.  Jika cinta ini baik, pelihara dan takdirkan kami dalam ridha’Mu.  Dan ikhlaskanlah hati hamba jika cinta ini hanya akan membuat hamba jauh dari berkah dan ridha’Mu.

Ya Allah, untuk segala rasa yang ada, dari makna yang terlupa, atau pertanda yang tak mahir kuartikan, ampuni dan genggamlah hamba lebih erat dari sebelumnya.

Aaamin yaa Rabbl’alamin.

Mencintai Tak Pernah Seindah Ini


Ya Allah,
Sebelum langkah takdirMu mengucurkan ujung yang utuh, biarkan keresahan memakamkan dirinya di kedua tanganku yang menengadah kepadaMu.

Wahai, Engkau Maha Pemberi...
Engkau yang menyelamatiku dari  hari-hari yang kelak mati, meski seringnya keluhku yang Kau dapati. Engkau yang kerap menyeka hujan tak bertepi di pipi, meski perihnya kudapati dari belati di tanganku sendiri. Engkau yang merengkuh segala nyeri, meski hatiku mengharap ciptaanMu yang lain.

Ampuni aku yang tak tahu diri. Ketika panggilanMu, kerap kuanggap hanya serupa lilin; yang menerangi untuk kemudian mati. Bukankah hanya Engkau yang begitu tulus mencintai, ketika yang lainnya hanya lahir untuk kemudian beranjak pergi dalam ribuan langkah kaki? Ampuni aku yang melewati banyak musim dengan meleburkan banyak pelangi, hanya untuk mencari arti.

Wahai, Engkau Maha Pengasih...
Aku adalah perempuan kerap kau selimuti kasih. Malam tak pernah sepekat kopi, ia selalu hadir dengan prasasti-prasasti yang kerap membuatku tergelincir, pada warna yang begitu pagi. itu ialah salah satu caraMu mencintai, membiarkan ciptaanMu mati agar mengerti arti kehadiran lahir.

Ya Allah, bisakah kupinta satu hal kali ini?
Jika hari ini gerimis kembali membasahi nyeri di perempuan yang Kau cintai ini, jangan hukum ia di lain kali. Aku belajar mencintai dariMu Wahai Maha Pengasih; ketika mata bukanlah juru kunci perihal mencintai, ketika doa ialah sebaik-baiknya untuk mencintai. Dan ketika memaafkan jauh lebih baik daripada membiarkan iblis merayakan kemenangannya melihat isi hati manusia dipenuhi rasa benci.

Biarkan hambaMu ini, belajar mengikhlaskan apa-apa yang tak pernah ia miliki. Sebab, ia pun sudah begitu mengerti; bahwa segalanya pun akan kembali, dan sebaik-baiknya pulang ialah kepada illahi.

Ya Allah, Wahai Maha Segala Arti...
Mencintai tak pernah seindah ini. Sebab, semakin resah itu mencekikku erat, semakin hebat dekapanku merengkuh surgaMu kelak. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikanku perempuan yang begitu mahir menjahit lukanya dengan banyak sabar. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikan keikhlasanku sebagai mahkota. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikanku hamba yang begitu Kau cinta.

Ya Allah,
Biarkan cintaku hanya berotasi padaMu, dan biarkan hamba mencintaiMu sepanjang usia jiwaku. Sujud syukurku tak kan habis tertuju padaMu, dan kepadaMu lah sebaik-baiknya cintaku tertuju.

Terima kasih ya Allah, untuk segala yang luput dari mata dan telinga. Terima kasih yaa Allah, untuk menempatkanku pada kebenaran agamaMu. Terima kasih yaa Allah, untuk cintaMu yang tak terukur dengan segala.

Alhamdulillah...



Tertanda,

Seorang Perempuan yang mengharapkan surgaMu kelak

LELAH


terkadang aku merasa begitu lelah untuk merasa lelah, bukan karena hariku yang tak berwarna, ataupun sepanjang hari yang membuat hatiku berkeringat. hingga ingin sekali ku terlelap begitu saja, tanpa perlu mengeja ingatan.

aku ingin sekali melukis malam, dengan nyanyian para malaikat; menyerukan nama-Nya dan berharap lelahku mereda. namun tak jarang, langkahku begitu erat menggenggam dunia, hingga melupa ini hanyalah jalan menuju apa yang kelak kekal. aku tahu, bukan mereka yang kerap membuatku tak bernyawa; tapi diriku sendiri yang memaksakan pelangi tiba dengan banyak pagi di kepala, meski aku tahu, bukan aku yang dijadikan pulang sejak awal.

aku ingin sekali membiarkan lidah berfungsi sempurna, atau bahkan membiarkan musim membawa luka hingga ujung dunia; agar pelukan lebih mudah direntangkan siapa saja, atau setidaknya, aku diberikan telinga untuk sekali saja. namun aku begitu merasa lelah, sebab tak sedikit yang hanya memberikan banyak muka dan bukan karena peduli  padaku yang hampir sekarat.

untuk detik yang banyak berkorban atas nama pelajaran; aku membiasakan luka dan membahasakan diam. tak sedikit yang menggoreskan belati hingga isi kepalaku keluar, atau bahkan aku membungkam kecewa dengan banyak pemakluman; bahwa kesalahan, yang menjadikan siapa saja manusia. Aku ingin sekali menenggelamkan malam dan menyerukan segala kesakitan, agar mereka tak lagi membuat hatuku patah untuk kesekian kalinya; namun aku merasa begitu lelah, bahkan hanya untuk berkata tidak.


aku memilih diam, dan membiarkan segalanya berlalu; sebab lelah sudah hilang makna, entah sejak kapan...

RUMAH


Untuk Suamiku;

Aku adalah rumah yang nyaman
Saat dunia tak lagi ramah;
Saat mereka hanya menertawakan;
Saat kakimu letih melangkah

Sebab aku hanyalah rumah
Dengan pintu; saksi kakimu datang dan pergi
Dengan jendela; mata dunia kala kau ingin bersembunyi
Dengan beranda; tempat malam menanti pagi

Sebab aku hanyalah rumah
Yang kerap terlupa saat kau tertawa dengan dunia;
Yang kerap menua dimakan usia;
Yang kerap ada meski kau melupa mengapa aku seharusnya ada

Sebab aku hanyalah rumah
Segala pulang yang tak pernah kau percayai ada.



Tertanda,
Istrimu yang sering membuatmu kesal

Surat di Kantung Mataku


Banyak bulan yang kulumat dalam jejak kaki, banyak lumpur yang kucoreng di muka sendiri. Bagaimana kabarmu, wahai perempuan yang digerus usia?

Menghiasi wajahmu dengan jemariku, membuatku lumpuh oleh ingatanku sendiri. Bagaimana waktu menjelma menjadi kerutan-kerutan di wajah itu –kerutan yang tak lebih banyak dari doa-doa yang kaugelar di atas sejadah tuamu; bagaimana sungai-sungai pernah tercipta dari kedua mata itu –sebab, kepalaku lebih keras dari suaramu; bagaimana musim keduapuluh menjadi tragedi yang patut kaurayakan – sebab, gadis kecilmu tak perlu lagi pulang ke pelukan siapapun, selain milikmu.

Sesekali, biarkan aku memelukmu. Mungkin pada tawa yang lahir di tengah ruang atau ketika amarah menjadi kurcaci-kurcaci nakal yang mencacah isi kepala. Pada sinar matamu yang redup, atau bibirmu yang  terkatup; aku tak perlu menjadi siapa-siapa selain aku. Kau, mencintaiku utuh.

Surat ini tak kan mampu kautemukan di laci atau saku celanaku, kusimpan rapat ketika lidah melupakan fungsinya mengapa seharusnya ada; ketika kertas dan pena hanya jadi budak nilai tukar rupiah; ketika kata-kata hanya letupan bara yang menyesal namun tak sanggup berbuat apa-apa.

Biarkan pada surat yang kusimpan dalam kantung mataku ini, menjadi celah bagi sayap yang kuhempas terlalu tingi untuk memelukmu; untuk mengucap syukur, mengapa menjadi milikmu adalah anugrah yang berlebih dari penciptaku.

Mungkin kelak, surat ini bisa kaubaca. Ketika lenganku berbicara; ketika detakku berdansa dengan doa-doa atau ketika air bah di dadaku menemukan senyum banggamu di kedua mata.

Di detik yang tak pernah kita tahu kapan akan berhenti, biarkan kakiku memilih. Percayalah, tak akan ada lagi musim yang kubiarkan beku dalam tangisan ngilu. Mungkin ini yang keseribu, ketika inginku lebih getir dari senggama sang petir yang menggebu.

Tapi percayalah, ibu...

Aku mencintaimu...



Tertanda,
Gadis manjamu yang kerap (melupa) pulang.

Untuk Seorang Perempuan Kuat; IBU



Ibu,...

Hatinya pernah secantik taman bunga, dipenuhi bunga berwarna merah muda. ia bahkan menaruh isi kepalanya pada akar yang menjalar perut bumi di dalam sana. hingga sebuah pohon tumbuh dengan sempurna, menjadikan apa-apa yang ada di sekelilingnya ikut merendah.

malam tak pernah datang tiba-tiba, ia tahu kelak akan datang waktunya. bunga-bunganya mulai layu serupa senyuman nenek tua. hatinya patah, dan tak lagi seindah taman bunga.

tak sekali ia mengumpulkan hujan di kedua matanya, menaruhnya dalam sebuah wadah di kedua tangannya dan mempersembahkan segala duka kepada Yang Maha Pemilik Rasa menghadap kiblat. ia paham betul, bahwa apa yang ia rasakan, hanyalah sebagian dari caraNya mencintainya. perempuan itu bersumpah atas nyawanya; untuk segala yang ada, sujud syukur tak kan habis ia sembahkan.

suatu hari yang tak lagi ganjil hadir, Tuhan memberinya jawaban atas doa-doanya selama ini. pria yang ia cintai, sudah seharusnya dibiarkan pergi, bersama malaikat di surga. ia kembali mematahkan langkah kaki. bukan hanya belati yang menorehnya kini, tapi serupa ada peledak yang telah lama mendiami diri; ia buncah, untuk kesekian kali.

ia menenggelamkan diri pada samudra yang sunyi; agar ia tak lagi mendengar bantahan mengapa malam kerap terjadi, atau agar ia tak lagi mengingat warna pelangi. Laki-laki itu terkubur dalam liang di jauh hari. bukan hanya sekali ia coba membasahi perih dengan keikhlasan air mata yang mengalir.

perlahan ia mulai bangkit dari gulita, mencoba lebih banyak memfungsikan telinga daripada lidah, dan mengulurkan tangannya untuk membantu siapa saja. baginya, bahagia bisa didapatkan dengan berbagai cara; meski dengan membahagiakan siapa saja yang membutuhkan.

senyumnya perlahan merekah, mengira rasa sakit telah sirna sempurna. tak ada waktu yang tak ia habiskan untuk mengulurkan tangan lebih banyak, ia merasa cukup bahagia, dengan apa yang ada. perempuan itu berdiri di atas cermin yang begitu malam; mencoba menerbangkan segala rasa yang buncah kepada Yang Maha Pemilik Segala. ia adalah milikNya, dan kepadaNyalah segala sesuatu yang dimiliki seharusnya pulang.

Ibu,...

Terima kasih untuk berbagi manis dari asin yang kaukecap, menjadikan hidangan nikmat tanpa perlu orang lain tahu bagaimana arang mencoreng wajahmu tanpa sebab. Terima kasih, untuk berdiri tegap. Meski kutahu, ada patahan duri di sela-sela jemari tak beralas. Tanpa kausadar, melihatmu kuat adalah kekuatan bagi yang lainnya untuk tak pernah berhenti percaya – bahwa bintang terlihat paling terang ketika kegelapan datang.

Tetaplah menjadi bintang paling terang untukku dan Desti (adikku). Bintang yang tak kan hilang meski pagi kerap menjadi binatang jalang –binatang yang melumat mimpi orang-orang. Percayalah, tidak ada yang lebih kuat dari doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Dengan doamu pula, aku yakin dan mengerti segala sesuatunya dimulai dari hati yang bersih,..

Diantara


tak ada yang mampu menjamin, bahwa cinta tak kan menyakiti bagi siapapun yang menerimanya.
—sebaik apapun cinta itu diberikan. tak juga ada yang mampu menjamin, cinta tak kan menyakiti bagi siapapun yang memberikannya —sebaik apapun cinta itu diciptakan.
bukan inginnya tuk berada di antara apa-apa yang begitu kubenci dan apa-apa yang selamanya yang kucintai. bukan pula inginku, menyayat belati di nadi seorang laki-laki; sedangkan aku merasa lebih mati dari dia yang disakiti.
tibalah aku pada sebuah hari-hari yang kerap membuat diriku mencaci diri; di mana setiap malam ku lewati dengan mencemaskan esok hari, menanti pagi dengan berharap kecemasan kan membunuh diriku sendiri. terkadang aku lupa, bahwa cemas tak kan berakhir hingga aku harus mengikhlaskan apa yang sejatinya harus terjadi.
malam tak pernah menua di kepalaku, meski pagi ialah apa yang kerap kusebut dalam doa-doa. di dadaku kerap percaya, doa tak kan pernah sia-sia dan aku hanya perlu menghadiahi diriku dengan lebih banyak lagi sabar; meski kecemasan tak kan lelah melumpuhkan langkah.
bisakah seseorang berikan jawaban, mengapa untuk bersujud kepadaNya, aku harus mencekik leher laki-laki yang menjadi napasku? dan mengapa tawa hanya dijadikan pemanis buatan untuk asin air mata?
Aku tak kan meminta Tuhan memaklumi noda yang kubuat, demi cahaya di wajah seseorang yang kucinta. sebab aku pun percaya, bahwa Tuhan lebih paham dalam rahasia-rahasia yang tak kan pernah mampu ku artikan.
barangkali, benar. jika cinta hanyalah perihal keikhlasan. sudah seharusnya keikhlasan ada untuk sebuah cinta; meski dengan mengorbankan diriku.
satu hal yang kerap aku pertanyakan,

haruskah terluka hanya untuk mencinta?

Untuk Seorang Perempuan; Doa (Tak Pernah) Datang Terlambat(?) ~ Nurul Hasanah



Terkadang aku mendapati diri menuangkan malam pada isi kepala yang tak mengenal diam, perlahan dan begitu dalam menikamku tanpa mengenal jarum jam. Pada detik berikutnya, sepi serupa kopi kental yang enggan ku teguk lagi, ia menetes di sela bibir dan sepanjang malam kulalui. Hingga tetesan-tetesan yang kupikir telah hilang kembali utuh, ia layaknya hantu-hantu yang enggan pergi sebab emosi masih menuhankan diri. Kau tahu, apa yang paling aku takuti? "Isi kepalaku sendiri". Ia mampu menikam siapa saja yang ingin kusakiti, atau barangkali, menjadi belati yang siap membunuh tuannya sendiri.

Pada gelap yang kupikir kekal tak beranjak dari lidah, atau gerimis yang tak mengenal angka-angka; Tuhan menghadiahi aku seorang kakak perempuan di balik cermin yang berbeda. Ia tak berwajah serupa, namun terkadang aku melihat patahan yang sama dalam langkah dan senyumnya, dan syukurku tak ingin beranjak dari sajadah, sebab ia kusebut sahabat. "Nurul Hasanah", terima kasih untuk tepat tiba di tempat.

Kau dan aku, bukanlah perempuan yang pandai menyederhanakan isi kepala, terlebih isi alam semesta yang penuh rahasia di dada. Bukan sekali, aku gagal menerjemahkan luka yang ada; dan kau akan membantuku menyusun patahan langkah, hingga kutemukan apa yang sengaja ingin kulupakan. Begitupun sebaliknya. Percayalah, kita hanya kerap melupa kalau kita bukanlah orang yang pelupa. Bukankah itu hanyalah pilihan kita, agar duka tak perlu menjadi raja yang kita sembah?

Kita serupa lidah yang sengaja Tuhan ciptakan untuk masing-masing kepala, membahasakan rahasia-rahasia dengan kalimat yang tepat; meski, tanpa perlu banyak bercakap. Sepasang mata kita ialah cara kita berbicara lebih banyak, dengan hati yang gemar bersolek di masing-masing kaca.

Entahlah, kita berada di satu garis bintang yang sama, namun jarang kulihat gelap menggerogoti isi cakrawalamu yang menawan. Kau memiliki segala, yang ingin kupunya; dan bukan hanya sekali saja, aku menginginkan warna yang sama. Barangkali, aku tak semahir dirimu dalam melukiskan awan, hingga hujan gemar sekali memeluk bumiku erat. Katakan padaku sekali saja, bahwa kelak sebuah musim akan tiba, dengan bahagia yang enggan menua – saat itu, kuasku tak perlu lagi patah, sebab tawa menjadi satu-satunya alasan mengapa langitku berwajah cerah.. Kuharap musim itu akan tiba bukan hanya untukku saja, tapi tepat diciptakan untukmu juga.

Nurul, terima kasih untuk tiba dan tak beranjak dari awal kaca berada di antara kita. Terima kasih untuk lahir dan berjuang menyelamati diri hingga hari ini datang. Jika bukan karena adanya kau, sudah bisa kupastikan hanya aku seorang yang merasa paling waras di antara yang lainya. Terima kasih untuk menjadi perempuan yang selalu berkata, “Kau adalah adikku, aku datang kerumah ya, kalau kamu sudah siap cerita.” Dan bukan memaksa lidahku berkata apa-apa sedang isi kepalaku entah berada di mana.

Sudah lepas aku menikah, dan kuharap doa-doa tak pernah mengenal kata terlambat untuk tiba. Tentu saja, usia bukan hanya perihal angka dan bertambahnya kerut di wajah; tapi usia ialah sebuah perjalanan yang kiranya tak kan pernah mudah kaulewati tanpa usaha dan doa. Untuk sebuah berkah yang kekal, dan keinginan-keinginan yang kerap tak masuk akal; percayalah, kau adalah pemenang atas tanggal yang janggal dan pahit yang berhasil kau penggal.

Kau dicintai, tentu saja.
Dan tak ada kertas yang mampu kau tuliskan dengan sebuah pena, atas berkah yang tak kan henti-hentinya tiba. Untuk jutaan detik yang mati, dan ratusan juta detik setelah ini; tetaplah menjadi perempuan yang tak kan lelah mencari arti dari bahasa bumi, meski kakimu digerus oleh takdir. Tetaplah menjadi perempuan yang tak hanya memiliki hati, tapi juga kaki yang paling jati dan isi kepala yang tak pernah lupa berotasi.

Nurul, tetaplah merasa waras, ketika manusia lainnya mengganggap kita gila. Kau tahu, kita memliki apa-apa yang sudah seharusnya dirahasiakan; dan tetaplah menjadi perempuan di luar logika, sebab Tuhan selalu melukiskan tujuan indah atas alasan-Nya menciptakan kita. Tetaplah merindukan aku, sebab kalau kita bertemu, yang ada kita hanya saling mengejek terus.
EH BEGIMANAH? Hahahaaa..

Ketika kau lupa caranya menggunakan lidah, sedang hatimu diguyur oleh ketiadaan; kabari aku ya, aku takut lupa kalau kau ada. Hahahaaa..
Kalau rasa sayang kita pudar hanya karena sifat pelupa-yang-sengaja-kita-ciptakan, saya rasa kita tak mungkin berhasil ada hingga sekarang.. :-p


Tertanda
Perempuan yang kerap lupa menyayangimu,
Diah

Secangkir Kopi


Hidup ibarat secangkir kopi, rasa manis & pahitnya ibarat sebuah kehidupan, ada manis ada pahit. Tinggal bagaimana cara kita menyeduhnya ibarat bagaimana cara kita membuat hidup kita seimbang, ada manis ada pahit.
Barangkali hidup hanyalah sekumpulan garis yang menyempurnakan diri dalam sebuah bentuk yang tak lebih dari warna hitam dan putih ditengah warna yang Tuhan warnai.

PENA

Kehidupan ibarat pena. Yang menuliskan cerita bahagia maupun duka, menggambarkan kehidupan, ciri, sifat, sikap & watak seseorang. Yang menggariskan garis hidup seseorang baik diatas maupun dibawah. 
Kita ibarat pena, bagaimana cara kita menggunakan; menulis, menggambar, menggaris kehidupan kita sendiri. 
Tinta ibarat warna karakter dalam kehidupan kita. 
Tinta warna Hitam melambangkan keanggunan, kemakmuran, percaya diri, kuat, maskulin, dramatis, misterius dan ketegasan. 
Tinta warna Merah melambangkan kesan energi, kekuatan, hasrat, erotisme, keberanian, simbol dari api, pencapaian tujuan,  cinta, perjuangan, perhatian. 
Tinta warna biru melambangkan kejujuran, ketenangan, kesetiaan, bisa diandalkan, keharmonisan, memberi kesan lapang, dan sensitif.
Kata pakar psikologi yang bernama Eisman, Biru itu memiliki arti yang stabil karena warna biru merupakan warna langit. Meskipun langit dapat menjadi kelabu saat akan hujan, manusia akan tetap tahu bahwa diatas awan-awan berwarna kelabu tersebut tetap terdapat langit yang berwarna biru.

Tergantung bagaimana cara kita menggunakan tinta untuk mewarnai hidup, itulah karakter kita.

Sabtu, 16 Januari 2016

POHON TUA


kita tak ubahnya serupa pohon tua, yang tetap berdiri tak peduli sehebat apa kala usia masih dalam hitungan, waktu selalu dapat melumpuhkan apa-apa yang pernah dibanggakan.
kita ialah pohon tua dengan akar, dahan, ranting yang tak lagi muda, namun berharap bisa membantu mereka yang menahan rasa lapar demi mencapai tujuan.
kita ialah pohon tua yang tetap berdiri kokoh walaupun terpaan badai kan datang.
kita kan terus menaruh kepala di atas, melupa bahwa warna hanya mengubah daun dan pohon menjadi gersang, bukan mengubah akar yang perlahan merenta sebab putaran waktu dan luka yang kerap dibiarkan ada. pada pinggir jalan di mana lampu-lampu telah dimatikan, akhirnya langkah kita terhenti sebab kesedihan-kesedihan yang tak juga menua. kita menjadi penyebab utama amarah mereka –manusia dengan masing-masing keinginan, yang tak peduli kecemasan kerap mengubah diri menjadi hujan tak berkesudahan di dada kita–, sebab air mata kita hanya menjadi penunda atas keinginan di ujung telunjuk mereka. terkadang mereka lupa, kita ialah perjalanan yang tak mampu mereka gantikan dengan selembar uang, dan dicerca dengan mudah ketika tujuan mereka diubah paksa; sebab kita pernah dinantikan tiba, ketika hati mereka terlunta.
kemudian berbagai upaya dilakukan untuk melunakan duka; dengan atau tanpa bantuan, toh pada akhirnya, kita hanya menjadi kenangan yang ingin dihapus segera.
kita hanyalah pohon tua...yang pernah begitu dinantikan untuk tumbuh, dan kemudian dilupakan, ditebang begitu saja..

Jumat, 08 Januari 2016

Root Of The Mind... #Part1

Tidak semua apa yang bisa dilafalkan, dapat dibicarakan. Tidak semua apa yang bisa dirahasiakan, dapat disembunyikan..


When you shut your mouth, open your eyes and ears wider you'll see more


 I'm not an introvert, I just don't know who to trust sometimes


Kadang mereka yang kau kira tak tahu apa-apa, tahu semua dan menyimpannya dalam diam.


Jangan nyubit, kalau tidak mau dicubit. Tapi kalau ada yang nyubit, jangan dibalas. Kamu tahu dicubit itu sakit dan karma itu ada." -Mama.


Mama selalu mengingatkan untuk mengembalikan apa pun ke diri sendiri, sebelum memperlakukan orang lain.


Mama mengajarkanku untuk berkaca di setiap langkah...


Sirik sama orang mah nggak ada habisnya. Ada sih yang habis, tenaga, hati sama pikiran.. hahahaaa..

Happy Wedding Anniversary 1st *04-01-2015*

Semoga di ulang tahun pernikahan kita ini, dapat menjadikan kita pribadi yang lebih dewasa, bertanggung jawab dan berpikir lebih matang lagi. Semoga masalah yang hadir menjadikan kita lebih dekat, membesarkan rasa cinta kita sejatinya masalah yang hadir itu hanyalah ujian yang harus kita selesaikan dengan bijak. Amiiiiiinnn... Love you so much my husband Indra Goodheroes (ɔ˘⌣˘)ε˘ ) (ɔˆ ³('⌣'c)