Peluhnya lelah, kaki pun
mulai melemah. Kembali aku pun berserah. Mungkin baiknya aku berhenti dulu
sejenak. Lepaskan penat yang
menggoda seluruh pendapat. Kemudian beranjak kemana seharusnya berpijak. Angin
menghampiriku, tawarkan
kesejukan sementara. Lalu
aku memandang kembali harapan belantara. Begitu liar, semua yang terhampar. Aku
tertegun saat menemukan sang waktu di hadapannya. Semakin melayang seiring jalan.
“Aku lelah,
bolehkan aku berhenti sebentar dan nikmati angin yang menggodaku ini?” keluhku
seraya meminta kepada sang waktu.
“Aku akan terus bersamamu. Tapi maaf, aku tidak bisa
menunggumu. Ketika aku telah pergi, kau tidak akan dapat memintaku kembali”
jawab sang waktu.
Aku tersadar, apa yang dikatakan oleh sang waktu benar. Meskipun aku mencoba untuk menghindar, waktu kan terus memudar.
“Tapi bagaimana aku bisa terus berjalan, jika kakiku
mulai melemah?” tanyaku lagi.
“Jika kakimu mulai melemah, setidaknya kuatkanlah hatimu.
Ia akan membantumu. Percayalah.” sang waktu tersenyum dan terhempas bersama
angin.
Seketika,
apa yang baru saja sang waktu katakan tentang waktu benar adanya. Sang waktu seketika
pergi, aku berusaha mencari dan tak ada lagi. Bergegas aku kuatkan
hati seraya berdoa dengan tujuan yang merambat ke hati. Hatiku
kuat, meskipun dengan kaki yang melemah. Aku tak perduli
lagi. Beranjak dari keterpurukan dengan
kelemahan, meskipun berat aku akan tetap mencoba. Kaki yang melemahpun tak
jadi masalah, karena aku percaya. Aku punya tujuan akan pengharapan.






